Bimtek Smart Tani Vol. 1 2026: Fokus Pada Teknologi Lahan Untuk Swasembada Pangan
Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) melalui Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Sumber Daya Lahan Pertanian (BRMP SDLP) melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Smart Tani Vol. 1 Tahun 2026 pada Kamis, 16 April 2026. Mengusung tema “Teknologi Sumber Daya Lahan Mendukung Swasembada Pangan”, kegiatan ini digelar secara daring melalui platform Zoom dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube BRMP SDLP, dengan partisipasi lebih dari 300 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Kepala Bagian Tata Usaha BRMP SDLP, Anik Dwi Hastuti, menyampaikan bahwa Smart Tani merupakan program baru dari BRMP untuk memperkuat diseminasi dan mempercepat adopsi inovasi teknologi pertanian. Kegiatan ini dikemas dalam bimbingan teknis berseri yang dilaksanakan secara periodik dengan menghadirkan narasumber dari UK dan UPT lingkup BRMP. Ia juga menekankan pentingnya partisipasi aktif dan umpan balik peserta sebagai bahan evaluasi peningkatan layanan.
Narasumber pertama, Ema Lindawati dari BRMP Tanah dan Pupuk, memaparkan pemupukan berimbang sebagai fondasi peningkatan produktivitas padi secara berkelanjutan. Menurut Ema, prinsip ini menuntut ketepatan jenis dan dosis unsur hara yang disesuaikan dengan kondisi kesuburan tanah serta kebutuhan spesifik tanaman, bukan sekadar penambahan pupuk secara berlebihan. Ia mengingatkan bahwa praktik pemupukan yang tidak efisien akan berdampak pada penurunan kuantitas dan kualitas hasil panen, serta berpotensi menggerus kesuburan tanah dan mencemari lingkungan. Oleh karena itu, integrasi antara pemupukan presisi, pengelolaan bahan organik, dan pemantauan status hara secara berkala dinilai sebagai strategi penting untuk mencapai target produksi sekaligus menjaga kelestarian lahan pertanian jangka panjang.
Selanjutnya, Adang Hamdani dari BRMP Agroklimat dan Hidrologi Pertanian membahas tantangan iklim yang dihadapi sektor pertanian pada tahun 2026. Berdasarkan proyeksi terkini, kondisi iklim netral di awal tahun diprediksi akan bergeser menuju fase El Niño pada semester II, yang berpotensi mempersingkat durasi musim hujan 10 hingga 20 hari di sebagian besar wilayah Indonesia. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Adang merekomendasikan serangkaian strategi adaptasi terintegrasi, meliputi penyesuaian pola tanam, optimalisasi infrastruktur pemanenan air seperti embung dan dam parit, implementasi teknologi irigasi pintar berbasis sensor dan Internet of Things (IoT), serta penerapan prinsip konservasi tanah dan air melalui teknik olah tanah minimum, penggunaan penutup tanah permanen, dan sistem rotasi tanaman. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjamin ketersediaan air secara efisien di tengah dinamika variabilitas iklim yang semakin nyata.
Sesi tanya jawab yang dipandu oleh Ketua Kelompok Substansi Layanan dan Kerjasama BRMP SDLP, Anggri Hervani, berlangsung dinamis dan interaktif. Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendalami materi teknis, mengklarifikasi tantangan di lapangan, serta berbagi pengalaman implementasi teknologi lahan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengetahuan penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pertanian di lapangan. Dengan demikian, peran penyuluh tidak hanya terbatas pada transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai jembatan strategis yang menghubungkan hasil teknologi BRMP dengan kebutuhan nyata petani di lapangan.